KEMBALI KE KAMPUS

20 Agustus 2011,

kembali ke kampus. 08.30. berkumpul bersama orang-orang berdasi membuat ana canggung untuk berinteraksi.

hidup adalah pilihan, mungkin ini yang sedang kita jalani.

MENEMBUS MIMPI

hari ini, ku katakan kepada dunia,

AKU BISAAAA!!!!

MAHASISWA OH MAHASISWA

MAHASISWA OH MAHASISWA ()

BANGKA BELITUNG

ALLAHUMMA FIRLANA ZUNUBANA..

TARE…

I have never told You..

How scared I am of the dark..

I have never told You..

how much I care for You..

But You know, don’t You?

You know everything..

Everything..

Don’t leave me alone in crowds..

I will lose my way back home..

Don’t send me to places far away..

Where You wont even remember me..

Am I so bad?

Am I so bad..

When sometimes, You swings me..

Too high in the air..

My eyes search for You..

Hoping You will come and hold me safe..

I don’t tell them..

But I get petrified..

I don’t let it show..

But my heart sinks..

You know everything, don’t You?

Everything..

My eyes are empty..

Tears too have left me..

Left me alone..

Silence fills my heart..

Fills my heart..

I feel pain no more I am numb..

All feeling has left me..

I am empty..

MENGUBUR SEBUAH MIMPI

Date line waktu berakhir sudah. 15 Juli 2010. Batas akhir pembayaran perkuliahan. Menunggu jam 24.00 berdentang. Aku kalah, kepada sebuah takdir yang sudah ditetapkan. Cukup sampai disini. 15 Juli 2010. Mengubur sebuah mimpi tentang kejayaan dalam lingkup pendidikan. Ya, mengubur mimpi…

Ku ingin menghabiskan mimpi terakhir ini dalam kedamaian malam di sebuah wisma. Dalam balutan ukhuwah sesama aktivis kampus. Karna di sini, di sebuah bangunan organisasi ini yang mungkin bagi manusia ia hanyalah biasa-biasa saja. Tapi bagiku, di sinilah aku bisa bermimpi dan berkarya, menapaki sebuah tangga dalam keletihan pengorbanan, step by step. Karna disini ada sebuah cerita yang mampu merubah sebuah dunia, selamanya.

Ada cerita, tentang sebuah ukhuwah yang dibangun dengan cintanya Allah, dalam naungan tawadhu kepada Rabb, dalam sujud panjang disepertiga malam terakhir-Nya, dalam kerinduan seorang hamba kepada penciptanya, dalam denting dawai azzam yang tetap akan selalu membara.

Ada, cerita, tentang perjuangan hidup seorang manusia. Dalam mempertahankan izzahnya, dalam hamasah menentang kejahiliyahan busana. Tentang mozaik-mozaik keindahan tawakkal kepada rabbnya.

Ada cerita, tentang mimpi membangun istana peradaban islam nan jaya. Dalam naungan tarbiyah sepanjang masa.

Ada cerita, tentang perjuangan hidup mencari ilmu eksakta. Dalam perjuangan merahi sebuah gelar dunia. Dalam perjuangan untuk hidup yang lebih baik dari semula.

Namun hari ini, mimpi itu harus dikubur. Dalam helaan nafas tawakkal kepada Rabbnya. Karena Dialah yang berhak menentukan segalanya. Karna Dialah yang Maha Tahu tentang hamba-Nya. Karna dialah yang Maha Berkuasa. Karna dialah yang Maha Pengasih Penyayang hamba-Nya. Dia Maha Segalanya. Kekuasaan-Nya meliputi seluas langit dan bumi ciptaan-Nya.

Kumulai merangkai kata demi kata, dalam genggaman tangan-Mu berbalut desah panjang kelelahan sebening mata, aku lelah, aku lelah. menuliskan sebuah surat pengunduran, kuhabiskan malam terakhir ini dengan keindahan ukhuwah berbuka puasa di temani saudari-saudari seukhuwahku. Inilah detik terakhirku bersama mereka, maka ia harus menjadi ukiran penutup yang istimewa.

Website dakwah itu masih tertata rapi di dalam folder ini. Video perjuangan akhwat ini masih tertata indah untuk siap dilounchingkan sebagai revisi perjalanan wanita-wanita pengukir sejarah di dalam dakwah teknik. Program dana abadi 100 juta masih tersusun dalam bait-bait azzam perjuangan yang akan selalu abadi. Menunggu seorang regenerasi pengganti diri di kursi dakwah kampus nanti. Aku percaya, dia akan datang, melanjutkan mimpi-mimpi yang terkubur ini.

Syukurku ya Allah, atas segala cerita yang Engkau rangkai dalam hidupku. Sekalipun harus dibayar mahal dengan mengubur sebuah mimpi. Tak kuragukan akan kebesaran-Mu dan Kemaha Kayaan-Mu. Karna aku percaya Engkau telah mengabulkan doa-doaku.

Sekian lamanya, ku ketuk pintu hati-Mu. Melantunkan doa-doa agar Engkau mau membantu mimpiku. Dalam nazar sedekahku. Namun mimpi itu harus terkubur dalam balutan Qadha dan Qadhar-Mu. Terkubur indah beriring dengan derai airmataku. Tapi aku bahagia, tetap telah mampu menangis kepada-Mu, tetap merasakan pahitnya terpuruk dalam cinta-Mu.

Ku tulis nyanyian syahdu berirama desah dan derai airmata dalam goresan tulisan ini sebagai tawakkalku kepada-Mu. Terima kasih ya Allah, memberikan cerita kepadaku. Terima kasih ya Allah mengajarkanku untuk bermimpi. Terima kasih pula telah memberikan kekuatan mengubur mimpi. Karna aku percaya, doaku selalu Engkau kabulkan.

Karna aku percaya,

“Pemahaman ketika aku tidak diberi maka itulah pemberian-Mu yang sebenarnya”

Wisma mujahidah, 15 Juli 2010, 20.34…

AYAH…

Kata-kata cinta terucap indah..
Mengalir berzikir dikidung doaku..
Sakit yang kurasa..
biar jadi penawar dosaku..

butir-butir cinta airmataku..
teringat semua yang kau beri untukku..
Ampuni khilaf dan salah slama ini ya Illahi..
Muhasabah cintaku..

Ayah, malam ini aku bermimpi tentangmu. Ya, aku bermimpi engkau sedang mengecat rumah kita. Engkau berikan sebuah warna di dinding rumah kita, warna yang aku sukai. Sudah 2x mimpi itu hadir menemaniku. Ayah, bagaimana kabarmu hari ini? Semoga allah merahmatimu dengan memberikan kesehatan yang baik kepadamu.

Jika suatu saat waktu nanti, ketika kita bertemu, mampukah kita berbicara layaknya seorang anak dan ayah? Mampukah kita tersenyum ketika waktu itu datang menghampiri kita?. Pun ketika nanti putrimu melepas kehidupann dirumah menuju ke sebuah kehidupan baru yang lain, mampukah aku berkata kepadamu agar engkau bersedia menjadi waliku?

Kurasa tidak. Karena hari ini kita berada pada posisi yang berseberangan. Dipisahkan sebuah jurang yang terlalu lebar untuk dilangkahi, dipisahkan sebuah tebing yang terlalu sulit untuk didaki. Engkau dengan pemikiranmu, dan kami dengan pemikiran kami. Keputusan sudah diambil. Dirimu yang mengambilnya.

Tak apalah, setiap orang punya garis kehidupan tersendiri. Tak ku salahkan engkau dengan prinsip yang engkau miliki. Pun tak pula bisa engkau menyalahkan kami dengan prinsip yang kami punyai. Tak ada yang salah. Hidup punya corak warna tersendiri.

Ayah, bagaimana kabarmu hari ini? Adakah kau tahu tentang mimpiku ini? Mimpi tentang engkau memperbaiki keindahan dinding rumah kita? Aku tak paham mentafsirkannya, sungguh tak paham. Direntang jarak yang panjang, antara Bandung dan Padang, ternyata kita masih bisa bertemu didalam mimpi. Subhanallah, maha suci allah yang mampu berkehendak.

Tapi jika aku boleh berdoa kepada allah, aku berharap agar allah tidak mempertemukan kita, baik dalam kehidupan dunia ataupun di dunia maya. Entahlah, luka ini belum sembuh, sangat belum sembuh. Terlalu banyak sayatan luka yang engkau berikan kepada kami, terkhusus kepada orang yang paling aku cintai, ibu.

Jika permintaanmu untuk menjemput uang ke Bandung agar engkau bisa kembali dalam kehidupan tidak kami penuhi, aku harap engkau tidak marah. Sungguh, bukan itu yang kami butuhkan walaupun hari ini kami membutuhkan. Seperti sebuah lagu minang yang pernah engkau putar di rumah kita,

Ondeh yo da..
Kayo jan dipanggakkan..
Cinto bukan dagangan..

Ya, sebuah lagu yang mengungkapkan bahwa kami tak butuh harta warisanmu, tak butuh. Andai engkau tahu makna lagu itu, tak akan ada permasalahan yang akan muncul diantara kita. Pun tanah warisan yang bapakmu berikan kepada ibu sudah kami kembalikan sekalipun engkau tidak menerimanya. Sengaja itu dikembalikan agar engkau tahu bahwa harga diri ini terlalu mahal untuk dijual dengan hartamu. Ambillah,

Kami tak butuh warisanmu, sungguh tak butuh. Yang kami inginkan hanyalah sebuah cinta dan kasih sayang darimu. Hanya itu. Tak lebih. Jika engkau bisa membaginya dengan yang lain, kenapa dengan kami tidak? Aku masih ingat ketika engkau menggendongku saat aku kecil dulu. Ya, engkau ajarkan kami sebuah kasih sayang dan cinta, namun dengan perjalanan waktu yang kita lalui bersama mengapa engkau menukar cinta itu dengan menanamkan sebuah kebencian. Mengapa engkau menanam sesuatu yang mengandung mudarat kepadamu?.

Ayahku, waktu ini akan terus berjalan, engkau tidak akan tetap berada pada masa muda dan sehat, dan kami tidak akan selalu kecil selalu. Tidak. Kita punya masa masing-masing. Dan saat ini bukan masamu lagi untuk berada diatas podium kekuasaanmu. Aku takut, jika suatu saat nanti engkau datang ketika aku tidak mampu menerimamu, aku takut..

Dan kenapa pagi ini aku menangis mengingatmu? Apakah karena terlalu perih luka yang engkau hadirkan selama ini? Ataukah karena aku masih mencintaimu? Entahlah..

Tapi pagi ini ya ayah, kalau boleh aku berkata,

“Aku Mencintaimu…”

Wisma mujahidah, 14 juli 2010, 07.30

MAHASISWA OH MAHASISWA (3)

Jam menunjukkan pukul 06.30. selesai shalat subuh tadi ana kembali tidur. Malam tadi ana nginap diwisma akhwat, menyelesaikan tugas ujian untuk semester. Ada 6 tugas dari 10 mata kuliah ana. bahkan ada dari 1 mata kuliah tersebut dengan 3 tugas. Ujian semester 2 ini dirapatkan menjadi 3 hari dengan masing-masing 3 buah ujian dalam 1 hari. Untung ketika ujian kemaren ketiga mata kuliah tersebut ujiannya open book. Tidak terbayangkan bagi ana ketika 3 mata kuliah tersebut close book. Rasanya tidak mungkin 3 buku pemrograman harus dihafal dalam 1 hari penuh.
Dan hari ini, ada 1 mata kuliah yang close book. Dosen ana dalam mata kuliah ini pernah menceritakan sesuatu ketika beliau kuliah di Universitas Kebangsaan Malaysia (waktu beliau mengambil S2), beliau katakan,

“Indonesia ini aneh, saya ketika kuliah S2 di luar negeri, mata kuliah yang saya ajarkan kepada saudara ini sebenarnya 4 mata kuliah, namun disini 4 mata kuliah tersebut harus saya ajarkan dalam 1 mata kuliah, jadi pandai-pandai saudara saja untuk belajar lebih giat ya”

(Satu rumus baru yang ana petik,”Kuliah tu pandai-pandai”, he he)

ana tersenyum ketika beliau menyampaikan hal tersebut, subhanallah, 1 bab pada mata kuliah ana pada hakikatnya sama dengan 1 mata kuliah diluar negeri, memberikan 4 mata kuliah yang dikemas menjadi 4 bab dalam 1 mata kuliah,fantastis. Wajar rasanya kepala ana terasa panas ketika beliau menerangkan materi kepada kami tentang Algoritma Genetic Dan Pemrograman Genetic-Sistem Pakar-Fuzzy Logic-Sistem Syarat Tiruan (sepertinya banyak yang akan tekanan batin dalam perkuliahan, he he)

ketika mengisi lembar jawaban untuk ujian esay, kami diperbolehkan untuk membuka buku. Karena materi yang akan dijawab berkaitan dengan Logika Fuzzy dan Sistem Syaraf Tiruan. Dan waktu yang diberikan juga cukup banyak, 30 MENIT!!!. Ana fikir ketika ana mengisi lembar jawaban maka soal tersebut akan terselesaikan tepat pada waktunya tanpa harus berdiskusi dengan teman.

Yang anehnya, saudara ana yang berada disebelah ana masih sempat untuk berbicara,

“Rin, dihalaman mana jawabannya?” tanyanya kepada ana

“Nanti” jawab ana

Dia menunggu ana selesai mengerjakan jawaban karena bukunya ana pinjam, (ana tidak punya buku masalahnya). Teman ana yang satu ini agak lucu, punya buku tapi tidak tau dihalaman mana jawaban itu ada. Maka ana pinjamlah bukunya untuk menunjukkan halaman jawaban tersebut dengan syarat “Pinjamin ana bukunya dulu”, he he.
Ana tertawa geli melihat tingkahnya, masih sempat dia mengomentari saudaranya yang lain ketika membuat jawaban, katanya gini,

“Wuisss, banyak jimat fhoto kopi nya” ujarnya kepada teman ana.

Ana tersenyum mendengarkannya, ana tau bahwa kertas jawaban esaynya masih belum berisi sementara waktu berjalan. Selesai ana meminjam bukunya, kemudian ana mengembalikan sambil menunjukkan letak jawabannya, (impas kita ya). Tak lupa ana meminjamkan notebook ana karena di dalam notebook ana ada jawaban nomor 2 (tidak tega rasanya membiarkan kertas jawabannya kosong).

Tak ada yang special untuk sebuah ujian semester hari ini, berbeda ketika ana D3 kemaren, ujian adalah momok yang sangat menakutkan bagi ana, namun sekarang ana sadar, bahwa belajar itu bukanlah karena ijazah. Ijazah hanyalah sebagai bonus bagi kita. Yang terpenting itu adalah skill kita. Apalah guna IP tinggi sementara ana tidak mendapatkan apa-apa dari kuliah. (yang bagus itu IP TINGGI SKILL TINGGI, he he)

Dan hari ini ana merobah pola pikir ana, berat memang untuk memulai tapi ana percaya itulah belajar yang sebenarnya. Bagaimana kita mendidik diri kita untuk selalu belajar tentang segala sesuatu, bertanya untuk mendapatkan pengetahuan baru. Karena salah seorang dosen mata kuliah pemrograman ana pernah berkata,

“Pendidikan yang kita lakukan hari ini adalah pendidikan pedagogic. Pendidikan yang mengandung arti bahwa kalian dipaksa untuk belajar. Namun yakinlah ketika kita berusia diatas umur 30 tahun, maka pendidikan yang akan dilakukan itu adalah pendidikan andragogik. Pendidikan yang berasal dari keinginan belajar sendiri. Kita yang mengajar diri kita, Bukan atas dasar paksaan.”

Ana tercenung mendengar perkataannya, merangkai – rangkai kata-kata dosen tersebut di benak ana, kemudian muncul ide bertanya kepada beliau,

“Pak, Kenapa tidak dari sekarang saja kita memulai pendidikan andragogik tersebut pak?”
Sang dosen menjawab,

“Tidak semua orang yang berada pada umur diatas 30 tahun melaksanakan pendidikan andragogik itu nona. Apalagi sekarang…”

Ana mengingat-ingat perkataan beliau sampai ketika ana pulang. Maka akhirnya muncul ide bahwa ana harus memulai pendidikan tersebut dari sekarang. Dengan perjalanan waktu, akhirnya ana temukan bahwa ternyata pada hakikatnya MAHASISWA HARUS MELAKSANAKAN PENDIDIKAN TERSEBUT, yang kita kenal dengan kata “BELAJAR MANDIRI”.

Belajar untuk tidak bergantung kepada orang lain (namun bukan berarti kita tidak butuh dosen atau orang lain), kita tahu kapan kita harus bertanya kepada orang lain, pendidikan yang pada hakikatnya adalah berusaha sendiri memahami isi materi pembelajaran. Belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri, tidak, bukan itu maksudnya.

Belajar mandiri artinya belajar karena adanya keinginan atau inisiatif sendiri untuk belajar, baik tanpa bantuan orang lain atau mendapatkan bantuan dari orang lain, karena pada hakikatnya BELAJAR IALAH BAGAIMANA SIPEMBELAJAR MAU UNTUK BELAJAR. Kemandirian diperguruan tinggi harus dimulai ketika kita menginjakkan kaki diperguruan tinggi. Dan kemandirian ini adalah sesuatu sikap yang dibuat tidak datang sendirinya.

Dan untuk sebuah kenaikan atau penentuan nilai yang diberikan dengan melaksanakan ujian, maka kalau boleh ana berbicara, ana kurang suka dengan metode ujian tutup buku maupun buka buku.

Ana ingat ketika ana STM dulu, seorang guru sejarah melaksanakan ujian “1 UJIAN UNTUK 1 BAB”. Ujiannya pun bukan tutup buku ataupun buka buku, tapi beliau menyuruh kami 2 dua ke depan kelas, ujiannya langsung dari beliau, beliau berikan pertanyaan langsung kepada salah seorang dari kami, jika orang pertama tidak mampu menjawab maka pertanyaan dilontarkan kepada siswa kedua. Sehingga ana masih ingat dengan pelajaran sejarah beliau mengenai cerita peradaban romawi kuno, Mesopotamia. Indah sekali belajar ketika itu.

Lain lagi dengan metode seorang guru bahasa inggris ana ketika STM dulu, beliau mampu menamatkan 1 BAB 1 PERTEMUAN. Dalam 1 BAB tersebut ada 1 cerita bahasa inggris yang harus ditranslate kedalam bahasa Indonesia, dan tahu kah anda? untuk menyelesaikan pertanyaan dalam 1 BAB itu semua murid yang berjumlah 36 dalam 1 kelas tersebut dapat giliran menjawab pertanyaan. Bahkan ada yang 2x dipanggil namanya. Guru ana yang satu ini kalo mengajukan pertanyaan tidak berdasarkan urutan absen tapi dipilih satu-persatu dan langsung dinilai.
Ana tertawa jika mengingatnya. Karena ketika itu, bahasa inggris ana lumayan bagus. Ketika minggu besok ada materi BAB 3, maka ana sudah selesai menterjemahkan semua isi dari BAB 3 tersebut termasuk jawabannya. Karena yang terasa ketika itu sebuah kesenangan ketika mampu menterjemahkan cerita di masing-masing bab.

Jam pelajaran bahasa inggris tersebut berada pada jam ke 1 2 dan 3. Pagi-pagi ana sudah ditunggu oleh teman-teman untuk bersedia duduk satu bangku dengan mereka (kondisi belajarnya sama dengan kuliah, kami tidak memiliki lokal yang tetap, jadi ketika pelajaran bahasa inggris kami bisa berada di lokal 1, namun ketika pergantian jam berikutnya kami bisa belajar di lokal 7, lokal kami ada 22 lokal).

Kondisi teman-teman ana ketika belajar bahasa inggris tersebut cukup menyedihkan, jika mereka salah dalam menjawab pertanyaan maka siap-siaplah menjadi omelan beliau sekaligus ga dapat nilai. Ana kasihan kepada teman-teman ana, karena itulah ketika mereka tidak tahu, maka ana akan siap untuk memberikan jawabannya, pernah pada suatu kejadian ana hampir diusir oleh sang guru karena ketahuan 3x memberikan jawaban kepada teman ana (guru tersebut kupingnya terlalu nyaring mendengar ketika memberikan jawaban), kata beliau seperti ini,
“RINI!! Ini sudah ketiga kalinya saya mendengar bisik-bisik kamu, satu kali lagi kamu memberikan jawaban, saya usir kamu keluar ruangan”,

Ana terdiam mendengar beliau berkata, tapi lucu juga, mana berani beliau mengusir ana, beliau terlalu sayang dengan ana, he he.

Teman –teman ana sangat tidak suka dengan pelajaran ini, bahkan pernah ketika guru ana ini tidak datang karena berhalangan, mereka menjawab,

“Alhamdulillah, ndak baraja bahasa inggris kini, ha ha”

Doa yang tidak bagus untuk didengar. Yang lucunya, guru bahasa inggris ana ini jarang sekali tidak datang, bahkan kalo ana hitung selama 2 tahun belajar dengan beliau rasanya Cuma 1x beliau tidak datang, ha ha.

Kita tutup diskusi kita pada malam ini, karena ana mau ujian besok. Doakan semoga sukses, amin. Tapi ingat kembali inti pembicaraan kita, bahwa”MAHASISWA HARUS BERKARYA”. TETAP OPTIMIS!!.HIDUP MAHASISWA!!
Padang, 02 Juni 2010, 20.21

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.